Gambar Kebun Kopi “Java Cibeber” Kabupaten Bandung Barat
Mungkin sempat terlewatkan tentang adanya informasi bahwa pada tahun 2015, seorang petani kopi binaan Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, H. Asep Sukmana, Ketua Gapoktan Kopi Java Cibeber dari Bandung Barat, pernah diundang oleh Kedutaan Besar RI di Brussel Belgia, untuk memaparkan produk kopinya dihadapan para pengusaha kopi di negara tersebut.
Undangan tersebut tentu saja bukan tanpa alasan, mengingat sebelumnya ada seorang expert kopi dari Belgia didampingi oleh staf Kedubes Belgia di Jakarta, yang pernah survey ke berbagai provinsi penghasil kopi di Indonesia, dan mengujinya serta memperbandingkan cita-rasanya antara satu kopi dengan lainnya, sehingga sampailah pada suatu kesimpulan untuk mengundang pemilik kopi Java Cibeber ke Brussel-Belgia.
Singkat cerita, hasil kunjungan ke Belgia yang difasilitasi oleh Kementerian Perdagangan RI dan Kedubes RI di Brussel tersebut, maka disepakati bahwa kopi Java Cibeber milik H. Asep Sukmana tersebut dianggap layak untuk masuk ke pasar Kopi di Belgia.
H, Asep Sukmana saat 'bertandang' ke Brussel Belgia
Prestasi selanjutnya terjadi pada tahun 2016 ini, dimana Kopi “Java Cibeber” termasuk salah satu kopi spesial (speciality coffee) asal Kabupaten Bandung Barat, yang baru-baru ini telah menjadi primadona di ajang Specialty Coffee Association of America (SCAA) Expo 2016 yang digelar di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat. Pasalnya kopi Java Cibeber ini menempati peringkat ke empat dari 17 sample kopi terbaik Indonesia yang turut berlaga di SCAA pada tanggal 14-17 April lalu dan menempati peringkat ke dua terbaik dunia untuk kopi asal Kabupaten Bandung Barat. Sehingga layak dijuluki sebagai kopi terbaik kedua dunia asal desa Cibeber, Sindangkerta, setelah kopi “Mekarwangi” asal desa Mekarwangi, Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat.
H. Asep Sukmana, Ketua Gapoktan Kopi "Java Cibeber"
Selayang Pandang Kopi “Java Cibeber”
Kopi asal desa Cibeber, Kecamatan Sindangkerta Kabupaten Bandung Barat ini mulai dibudidayakan secara serius pada tahun 2011 yang diawali dengan areal garapan yang tidak terlalu luas, hanya sekitar 4 Ha. Seiring berjalannya waktu dan pembinaan yang dilakukan oleh Dinas Perkebunan beserta instansi terkait lainnya, maka H. Asep Sukmana sebagai pemilik Java Cibeber mulai memperluas areal garapannya dan terus menimba ilmu baik dari cara bercocok tanam yang baik “Good Agricultural Practices”, teknik pengolahan yang baik “Good Manufacturing Fractices” maupun dari aspek jaringan pemasaran lokal, nasional dan internasional.
Berbagai aktivitas diikuti oleh H. Asep mulai dari bimbingan teknis yang diselenggarakan oleh Dinas Perkebunan seperti bimtek GMP, HACCP, bimbingan pertanian organik, bimbingan pengolahan dan pemasaran, bimbingan teknik penanganan pascapanen dan pengemasan, sampai kepada pembekalan pengetahuan tentang resi gudang.
Untuk mengembangkan dan memperluas jaringan pemasaran, H. Asep juga mengikuti berbagai event promosi dan pemasaran baik dalam negeri maupun luar negeri. Namun demikian H. Asep tetap menjalankan kiprahnya sebagai petani kopi yang tekun dan serius, sehari-hari selalu meluangkan waktu untuk mengawal aktivitas anggota kelompok tani di kebun, sebab menurut beliau hasil yang baik akan diperoleh jika perhatian betul betul dicurahkan pada pengelolaan mulai dari off farm hingga on farm, dan tidak bisa mengandalkan petani penggarap di kebun.
Pada akhir tahun 2011, Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat memberikan bantuan sosial berupa sebuah pabrik pengolahan kopi lengkap dengan peralatan dan mesin yang diperlukan hingga bisa menghasilkan green bean (kopi beras) yang sesuai standar pasar. Berkat bantuan tersebut, motivasi kelompok tani yang diketuai oleh H. Asep ini semakin meningkat untuk mengembangkan dan memperluas areal garapan kopi Java Cibeber, tentunya dengan tetap mengutamakan kualitas produk yang dihasilkan. Hingga kini luas areal garapan penghasil kopi Java Cibeber ini telah mencapai 8 Ha untuk milik pribadi dan sekitar 300 Ha dengan milik anggota kelompok tani. Pengelolaan areal budidaya yang begitu luas tidaklah mudah, atas inisiatif beberapa orang anggota kelompok yang tergabung dalam Java Cibeber, maka pada tahun 2010 dibentuk koperasi “Sariwangi” dengan tujuan membantu anggota kelompok tani dalam menjalankan usaha tani pengembangan kopi. Koperasi yang diketuai langsung oleh H. Asep ini bergerak dalam menyediakan sarana produksi pertanian yang dibutuhkan anggota seperti pupuk organik, dan juga memberikan pinjaman berupa uang tunai kepada anggota dengan jangka waktu tertentu dan pembayaran dapat dicicil melalui hasil kebun berupa buah kopi (ceri kopi).
Kopi yang dibudidayakan pada ketinggian antara 1.400 Mdpl hingga 1.600 Mdpl ini benar-benar sangat memperhatikan GAP dalam proses budidayanya dan tidak menggunakan bahan kimia untuk pemeliharaan dan perawatan tanaman di lapangan. Jenis tanah Inseptisol yang menjadi tempat tumbuh kopi Java Cibeber dipadukan dengan pupuk organik asal bahan tanaman memberikan pertumbuhan yang sangat baik dan buah yang lebat sehingga pada saat panen raya Kopi Java Cibeber mampu menghasilkan 6 kg/pohon. Aneka pohon penaung dari jenis tanaman buah-buahan (jeruk dan jambu) dan tanaman kehutanan (kayu kayuan) disinyalir turut mewarnai citarasa Kopi Java Cibeber yang muncul saat dilakukan penyeduhan. Secara nyata kopi ini memiliki citarasa yang unik dengan aroma yang khas, hasil cupping test memberikan cupping notes : Nutty, Ripe Cherry, Slightly Floral, Toffee, Dark Chocolate. dengan score 83,33 yang diolah melalui Honey Process.
Pengolahan Green Bean “Java Cibeber”
Perjalanan panjang harus dilalui oleh buah kopi atau ceri kopi sebelum ia sampai ke dalam cangkir para penikmat kopi dalam bentuk minuman. Mulai dipetik dari pohon sampai kepada cangkir seduhan membutuhkan proses yang cukup panjang dan masing-masing tahapan proses tersebut umumnya mempunyai standar masing-masing yang akan menentukan senikmat apa kopi itu nantinya. Dengan kata lain, setiap tahapan proses akan mendukung “keberhasilan” kopi yang akan dinikmati. Kesalahan atau ketidak-tepatan pada salah satu fase proses saja bisa mempengaruhi rasa yang akan disajikan.
Sepintas diperhatikan, bahwa yang membuat kopi Java Cibeber ini menjadi terkenal adalah karena kualitas, cita rasa dan cara pengolahannya. Pengolahan kopi yang diterapkan pada kopi Java Cibeber saat ini meliputi 2 cara yaitu 1). pengolahan cara basah atau diolah tanpa lendir kopi dan 2). pengolahan dengan cara Honey atau pengolahan buah kopi dengan lendir kopi yang memiliki rasa manis, yang membuat citarasa manis kopinya alami langsung dari buahnya. Untuk mengetahui perbedaan kedua cara pengolahan ini, berikut diuraikan tahapan masing-masing cara pengolahan, proses basah dan proses honey.
Wet Process / Proses Washed / Proses Basah
Pengerjaan proses basah membutuhkan banyak sekali penggunaan air sehingga beberapa aktipis/pakar sering menganggapnya proses yang tidak ramah lingkungan. Meski kelihatannya boros air, tapi faktanya proses ini dipilih oleh para produsen kopi. Alasannya, proses basah dianggap bisa membantu mengurangi cacat pada kopi, karena pada saat proses pembersihan awal, setiap buah ceri kopi yang mengambang akan dibuang karena dianggap tidak memiliki massa yang cukup layak.
Tahapan Wet Process:
- Setelah buah ceri kopi yang matang sempurna dipetik, maka ceri kopi itu dipisahkan kulit daging dan bijinya dengan menggunakan mesin yang disebut pulper
- Setelah kulit daging buah dibuang, maka biji-biji kopi tersebut dipindahkan dalam sebuah tanki khusus yang bersih untuk kemudian difermentasi, dengan tujuan untuk menghilangkan kulit daging ceri yang masih tersisa.
- Setelah biji kopi benar-benar bersih dari daging kulitnya, maka proses selanjutnya adalah membersihkan kembali biji kopi dari sisa-sisa kotoran fermentasi. Lalu, biji-biji kopi yang hampir matang sebagai green bean ini kemudian dikeringkan dengan cara dijemur di bawah sinar matahari, atau diangkat di atas meja pengeringan, atau bisa juga dengan menggunakan mesin pengering mekanik jika pada tempat kopi diproses tidak memperoleh sinar matahari dan kelembaban yang cukup.
Kopi yang diproses dengan cara washed seperti ini umumnya memiliki karakteristik seperti: rasa yang cenderung bersih, lembut, tingkat acidity lumayan, namun memiliki kompleksitas rasa yang cukup beragam dan unik.
Kopi beras dikeringkan pada wet process
Honey Process
Proses ini agak mirip degan pulped natural dan umumnya digunakan di banyak negara-negara Amerika Tengah seperti Costa Rica dan El Salvador. Metode ini menggunakan lebih sedikit air jika dibandingkan dengan pulped natural process. Buah kopi dikupas dengan mesin mekanis, mesin pulper bisa dikendalikan untuk menentukan seberapa banyak daging buah yang mau tetap ditinggalkan di bijinya sebelum dijemur. Kulit daging yang tersisa ini dalam Bahasa Spanyol diistilahkan dengan miel yang berarti madu (honey).
Kopi dikeringkan pada honey process
Tahapan Honey Process :
- Buah kopi yang telah matang sempurna (warna merah penuh) dipetik dari pohon secara manual dengan menggunakan tangan.
- Buah kopi yang sudah dipetik dijemur hingga kering, tanpa mengupas kulitnya terlebih dahulu.
- Buah kopi yang sudah kering, langsung dihuller dengan biji kopi didalam nya.
- Tahap selanjutnya akan diperoleh green bean kopi yang sudah terpisah dari daging buah kopi dan kulit tanduk.
- Green bean kopi dengan metode ini masih terdapat lendir dari buah kopi yang menempel. Karena lendir yang menempel ini maka proses semacam ini biasa disebut dengan “Honey Process”.
- Green bean yang masih berlendir tersebut kemudian dijemur sampai kadar air 12-13% sesuai dengan standarisasi ekspor.
Sebenarnya jika diperhatikan perbedaan utama dari Wet process dan Honey process terletak pada proses Huller nya. Wet proses di pulping dulu baru di huller, namun untuk Honey proses, buah kopi langsung di huller secara bersamaan dengan biji kopi. Perbedaan lain nya adalah di proses fermentasi. Wet proses telah melalui proses fermentasi, sedangkan Honey process tidak melalui proses fermentasi.
Perbedaan Wet Process dan Honey Process
Prospek “Java Cibeber”
Kopi yang tumbuh subur di wilayah kaki Gunung Halu ini ternyata telah malang melintang ke berbagai Negara produsen kopi dan Negara pengimpor kopi dunia. Untuk memenuhi permintaan pasar, setiap hari Java Cibeber mampu menghasilkan 300 kg biji kopi yang berasal dari kebun milik H. Asep dan kebun anggota kelompoknya. Produk yang dihasilkan berupa green bean, bukan saja mencukupi kebutuhan pasar dalam negeri (Bandung, Jakarta, Surabaya dan Medan), namun juga untuk memenuhi permintaan pasar luar negeri. Sejak tahun 2012 penjualan kopi ini telah merambah ke sejumlah Negara di Asia dan Eropa seperti Jepang, Italy, Inggris, Korea Selatan, China, Maroko, Singapura dan Jerman.
Melihat jaringan pemasaran yang telah terjalin dengan baik, taman delta dan indokom untuk buyer dalam negeri dan berbagai Negara pengimpor kopi untuk luar negeri, sungguh sangat layak jika potensi penjualan dan penghasilan kopi Java Cibeber dikatakan sangat menjanjikan, oleh karena itu kopi Java Cibeber dinobatkan menjadi salah satu komoditas unggulan bagi Kabupaten Bandung Barat, dan sekaligus merupakan komoditas unggulan komparatif, bahkan sekarang telah menjadi komoditas unggulan kempetitif karena sangat menjanjikan untuk meningkatkan nilai tambah pendapatan para petani yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Cibeber.
Menurut data internasional kopi organisation konsumsi kopi saat ini tumbuh sebesar 6-8% per tahunnya, konsumsi kopi domestikpun mencapai 300.000 ton/tahun, artinya peluang besar terbuka bagi Java Cibeber untuk memenuhi kebutuhan konsumsi kopi dan menguasai pasar domestik maupun pasar internasional. Menjamurnya gerai-gerai kopi di dalam dan diluar negeri memberikan peluang bagi Java Cibeber untuk menerobos perluasan pemasarannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar